Dynamic Blinkie Text Generator at TextSpace.net

Minggu, 22 September 2013

Fakta tentang Bunga Bangkai (Amorphophalus)


Fakta tentang bunga bangkai (Amorphophalus) yang masih banyak tidak diketahui oleh masyarakat kita. Sering kali bunga bangkai masih diangap sebagai spesies yang sama dengan bunga Rafflesia. Padahal antara keduanya merupakan spesies yang berbeda mulai di tingkat kelas.
Selain perbedaan itu, masih terdapat beberapa fakta lain tentang bunga bangkai yang layak kita ketahui bersama. Berikut beberapa fakta terkait bunga bangkai.



Amorphophalus titanum yang mekar 7 Januari 2013 di Penangkaran milik Holidin Bersaudara 

  • Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum)
    Bunga bangkai berbeda dengan Raflesia. Secara fisik bunga bangkai memiliki daun dan batang yang tumbuh menjulang tinggi sedangkan bunga Rafflesia hidup sebagai parasit pada inang tertentu tanpa batang dan daun dan bunganya merebah di tanah.
  • Secara taksonomi, bunga bangkai dan Rafflesia merupakan spesies yang berbeda mulai di tingkat kelas. Bunga bangkai (Amorphpophallus sp.) merupakan anggota kelas Liliopsida, sedangkan bunga rafflesia (Rafflesia sp.) merupakan anggota kelas Magnoliopsida. 
  • Terdapat 170 jenis bunga bangkai di seluruh dunia dan sekitar 25 jenis di antaranya bisa ditemui di Indonesia. 
  • Penemu pertama jenis Amorphophalus titanum adalah Odoardo Beccari seorang pakar botani berkebangsaan Italia. Ketika itu, tahun 1878, dalam perjalanannya di Kepahiang – Rejang Lebong (Bengkulu) ia menemukan tumbuhan bunga bangkai. Kemudian oleh rekannya Prof. Giovanni Arcaneli dari Turki, diberi nama ilmiah Amorphophallus titanum terhadap hasil temuan Beccari tersebut. Sejak itu dunia botani mengenal bunga bangkai dengan nama Amorpophallus titanum Beccari 
   
    Odoardo Beccari 

  • Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) ditetapkan sebagai flora identitas (maskot) provinsi Bengkulu berdasarkan Keputusan Presiden No. 4 Tahun 1993.
  • Botaniche Gärten Bonn (kebun raya di Jerman), menggunakan gambar bunga bangkai raksasa (Amorphpophallus titanium) yang merupakan bunga endemik Sumatra sebagai lambang kebun raya tersebut.


    Bunga bangkai raksasa menjadi lambang Botanische Gärten Bonn, Jerman


  • Menurut peneliti asal University of Wisconsin, AS, Thomas C Gibson, di benua Eropa dan Amerika saja, ada sekitar 6.000 kebun raya dan arboretum yang mengoleksi bunga bangkai raksasa.
  • Sebutir biji bunga bangkai titan arum (Amorphpophallus titanium) butuh waktu 20 hingga 40 tahun hingga berbunga untuk yang pertama kalinya.
  • Bunga bangkai (Amorphophallus) mengalami dua fase dalam hidupnya yang berlangsung secara bergantian dan terus menerus, yakni fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif di atas umbi bunga bangkai tumbuh batang tunggal dan daun yang mirip daun pepaya. Hingga kemudian batang dan daun menjadi layu menyisakan umbi di dalam tanah. Fase selanjutnya, generatif yakni munculnya bunga majemuk yang menggantikan batang dan daun yang layu tadi.


    Skema daur hidup bunga bangkai

  • Warna kelopak bunga bangkai raksasa selalu beragam dan tak pernah sama setiap kali mekar meskipun berasal dari umbi yang sama. Warna bunganya dapat bervariasi seperti merah hati, jingga, merah dadu, dan kehijauan. Sementara tongkolnya pun pernah muncul dengan warna keunguan, agak putih, serta kuning.
  • Sesaat menjelang mekar, suhu di dalam seludang yang belum terbuka bisa mencapai 50 hingga 60 derajat celcius. Kondisi ini membuat bunga ini terlihat mengeluarkan asap di tengah dinginnya udara pegunungan.


    Amorphophalus titanum menjelang mekar

  • Bau yang dikeluarkan ternyata tidak sekedar bau busuk saja. Biasanya bau busuk yang dikeluarkan bunga bangkai bercampur antara bau yang menyerupai kertas terbakar, amis ikan, telur busuk, bahkan bau bangkai tikus.
  • Sebuah umbi Amorphpophallus titanium yang pernah diselamatkan oleh Tim Peduli Puspa Langka (Holidin Bersaudara) di Bengkulu bobotnya mencapai 100 kg dengan diameter hampir sebesar roda mobil L300. Delapan orang mengaku kewalahan memindahkan umbi ini dari lahan yang dibuka untuk perkebunan kopi yang disiram herbisida untuk melenyapkan pepohonan serta rumput.
  • Bunga bangkai raksasa tertinggi yang pernah mekar tercatat menjulang setinggi 3.45 meter. Bunga ini mekar di Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu.
  • Di luar habitat aslinya, tumbuhan vegetatif (masa berdaun) yang memiliki ketinggian 3 hingga 4 meter bisa menghasilkan bunga setinggi sekitar 2 meter lebih. Yuzammi, seorang peneliti LIPI, pernah menemukan tumbuhan vegetatif yang ketinggiannya mencapai 6 meter di lereng hutan Sumatra.
  • Bunga bangkai raksasa sumatera (Amorphophallus gigas) merupakan bunga bangkai tertinggi. Tinggi bunganya mampu mencapai 5 meter. Sedangkan bunga bangkai titan arum (Amorphpophallus titanium) biasanya lebih pendek namun lebih besar.


    Amorphophalus gigas yang mekar 21 Maret 2013 di penangkaran milik Holidin bersaudara setinggi 4,20 m


  • Amorphophalus titanum asal Bengkulu berhasil diawetkan di Kebun Raya Bogor untuk  dipamerkan dalam ajang International Horticulture Goyang 2013, Korea Selatan pada tanggal 27 April hingga 12 Mei 2013 mendatang.
   
Proses pengawetan bunga bangkai Amorphophallus titanium yang kemudian dimasukan ke dalam tiga buah kotak kayu yang sudah disiapkan khusus dari Korea Selatan.



  • Populasi serangga penyerbuk bunga bangkai bisa jadi terkait pula dengan keberadaan bangkai binatang hutan. Jika lahan dibuka dan binatang besar semakin jarang, semakin berkurang pula jumlah bangkai dan serangga. Populasi bunga yang diserbuki pun semakin berkurang.
Dengan mengenal berbagai fakta tentang bunga bangkai semoga kita makin merasa bangga lantaran sebagian besar bunga ini terdapat di Indonesia. Bahkan, bunga bangkai terbesar dan tertinggi (Amorphpophallus titanium dan Amorphophallus gigas) merupakan tumbuhan endemik Sumatera, Indonesia.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Liliopsida; Ordo: Alismatales; Famili: Araceae; Genus: Amorphophallus.

*Ditulis ulang dari “Fakta Bunga Bangkai” (notasijelajah.blog.nationalgeographic.co.id) dengan beberapa penambahan. Gambar: botgart.uni-bonn.de.
*Repost dari Alamendah's Blog dengan beberapa penambahan, photo koleksi Komunitas Peduli Puspa Langka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Archive