Peneliti: Migrain Bisa Ubah Struktur Otak


Penyakit ini sering kali dianggap sepele. Pasalnya, migrain mudah reda dengan obat sakit kepala biasa atau obat khusus migrain. Namun demikian, itu tidak akan mengobatinya, tapi hanya meredakannya. Bahkan, menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnalNeurology, yakni jurnal kumpulan dari penelitian American Academy of Neurology, migrain bisa mengubah struktur otak secara permanen.


“Secara tradisional, migrain dianggap sebagai gangguan jinak tanpa konsekuensi jangka panjang bagi otak,” tutur penulis studi, Messoud Ashina, seperti dilansir dari Channel News Asia, Kamis, 29 Agustus 2013. Nyatanya, migrain bisa mengubah struktur otak secara permanen.
Penelitan ini menemukan penderita migrain berisiko tinggi terkena lesi otak, yakni kelainan materi putih dan volume otak.
Penderita migrain dengan aura, yakni migrain yang ditandai dengan sensitivitas terhadap cahaya, pusing, dan denging di telinga, memiliki risiko 68 persen lebih tinggi terkena lesi otak dibandingkan dengan non-penderita migrain.
Sedangkan penderita migrain tanpa aura memiliki risiko 34 persen lebih tinggi terkena lesi otak dibandingkan dengan non-penderita migrain.
Ashina menuturkan, “Kajian kami menunjukkan gangguan ini bisa mengubah struktur otak secara permanen dengan berbagai cara.”
Namun demikian, menurut Ashina, belum diketahui lebih lanjut bagaimana lesi otak bisa mempengaruhi fungsi otak dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, ia berharap, penelitian ini tidak berhenti sampai di sini.